Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia 2 (Kasus Tebuireng)
- A. Profil Pesantren Tebuireng
- 1. Sejarah Tebuireng
Tebuireng, sebuah pondok pesantren di Dukuh Tebuireng, desa Cukir, kecamatan Diwek, terletak pada kilometer ke delapan dari kota Jombang arah ke selatan, secara geografis letak Pondok Pesantren Tebuireng ini cukup strategis, karena ia terletak tepat di pertigaan jalan yang menuju ke Jombang, Malang, Kediri. Tepatnya berada di tepi pertigaan jalan provinsi yang jika ke utara ke arah Jombang, ke barat daya ke arah Pare Kediri, dan ke tenggara ke arah Batu Malang.
Pesantren Tebuireng pertama kali didirikan oleh K.H Hasyim Asy’ari di atas sebidang tanah yang telah dibeli dari seorang dalang di desa Tebuireng, tepatnya pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H atau sekitar tahun 1899 M. Pondok ini didirikan dari sebuah teratak bambu luasnya hanya sekitar 10 meter persegi. Teratak ini terbagi atas dua buah petak rumah, yang sebuah untuk tempat tinggal Kyai Hasyim dan yang sebuah lagi digunakan sebagai tempat mengaji dan sembahyang sholat. Murid yang bersamanya sekitar 8 orang yang dibawanya sejak dari pesantren Keras, di bagian selatan Jombang tempat ia berasal. Dalam tempo tiga bulan, 28 orang di Tebuireng menjadi santri Kyai Hasyim[1].
Sebelum berdirinya pesantren Tebuireng, desa Tebuireng memang dikenal sebagai desa yang masyarakatnya memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk, tidak agamis, seperti mabuk, berjudi, merampok, serta berzina. Tak ayal para Kyai lain yang semasa dengan Kyai Hasyim menertawakan kekonyolan keputusan beliau mendirikan pesantren di Tebuireng, sebuah desa terpencil yang jauh dari kota Jombang.
Namun, keputusan Kyai Hasyim untuk mendirikan pesantren baru ini bukanlah tanpa maksud. Beliau mempunyai tujuan, yaitu untuk menyampaikan dan mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya, dan menggunakan pesantren sebagai sebuah agent social of change.
Patut dicatat bahwa di sana terdapat sebuah pabrik gula, yaitu Pabrik Gula Cukir, kurang lebih berjarak 5 mil dari Pesantren Tebuireng, pabrik ini didirikan oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1853. Pada masa itu, gula merupakan sumber terpenting perdagangan luar negri bagi kaum kolonial. Dalam konteks ini, berdirinya pesantren Tebuireng vis-à-vis pabrik milik orang asing bisa dilihat bahwa berdirinya pesantren tersebut merupakan perlawanan terhadap hegemoni Belanda[2].

